Halaman ini berisi puisi-puisi yang pernah tercipta dalam penjelajahan diri…
AKU MENEMUIMU TANPA SATUPUN BISMILLAH
Jhody Jamastun
awan mengerek tasbihku naik ke langit entah
di ketebalan kabutnya kujilati wangi surga
dosa tersampir di ruang lain dalam hati
bercampur catatan kusam nama-nama ilahi
ku hitung kuasaMu di pucat purnama
telah putus tergunting nadiku
pada racikan rumi atau darwin,
dalam riuh kalutnya iman
kucakar udara, kubakar airmata
irak, checnya, juga indonesia
pada tajamcuram jurang pikiran
seseorang tertatih menjadi pengabdi
sedang Tuhan memasung esok hari
bersama genangan darah tertikam sejarah
di jubahNya tertampik bergunung amarah
dari surga terusir lagi berjuta dunia
maka,
aku temui Ia tanpa satupun bismillah
2003
PEREMPUAN
Jhody Jamastun
perempuan,
menjelma dari iga
sebentuk jasad sarat norma
mewarisi bumi sepotong surga
perempuan,
tertawa cantik serupa pelangi
menari lentik bersama bidadari
berhias aroma hasrat dan birahi
perempuan,
terbang mengejar impian
menonjok angkuh adam
mengikis norma dan aturan
sebelum akhirnya jadi jalang
2003
PADA TUHAN YANG MANA
Jhody Jamastun
bocah-bocah derita, lahir tak berayah,
hidup tak bernama, mati tanpa pusara
butir-butir pasir terurai dari genggamannya
menggali harapan pada tandusnya tanah
pernah sekali mereka menikmati mimpi
tergambar nyata di gumpalan awan
lalu begitu saja pijarnya redup tersapu debu
membawa panas neraka berdesing di telinga
bahwa hanya ada bara di depan mata
tak pernah mereka sentuh lekuk harapan
terpahat sempurna di tawa tuan-tuan
bernafas kering rongga dada oleh airmata
kariblah kapal tangan dengan derita
siapa yang telah memilihkan takdir baginya?
pada sudut bumi mana terkubur nasibnya?
bocah-bocah derita menulis do’a
dengan huruf-huruf neraka
maka meluncurlah berjuta wajah
menembus lapis-lapis angkasa
dari langit paling jauh
berkepak-bercahaya
biru sayap jibril memayungi
tangis haru mereka
menampar harga diri kita
memecah mata yang selama ini buta
kepada Tuhan yang mana kita akan bicara?
bahwa di samping rumah, pernah
meringkuk bocah derita
2003
DI ANTARA BUTIR-BUTIR TANAH
Jhody Jamastun
pena mana lagi akan kusembunyikan
dari tatapmu yang menghujam
membening menatap kegalauan
bercak tinta di hati belum lebur tersimpan
mimpi melebihi nyata
dan aku menulisi buku harian seperti biasa
melintasi putaran nadi
bersama tapak-tapak mengiris hati
begitu harapku ingin menjangkau
mengelus kembali pigura kamarmu
maka ku renda lagi kelambu duka
menidurkan jasadku pada misterinya
ternyata rindu lebih kuasa
melelehkan bayangan penuh luka
membawa jemariku mengais
pecahan-pecahan wajahmu yang tak habis
2003
PEMAKAMAN
Jhody Jamastun
koor tahlil menggerayangi syarafku
do’a-do’a purba merayap dalam keropos rongga bambu
seperti hantaman palu, tapaktapak melukis jejak
lumpur menggenangi hingga ke hati
seperti itulah orangorang berbaju hitam nembang
payungpayung belum terkatup sedang matahari terus redup
pada baris-baris airmata, tak terbaca
entah geram, dendam, ataupun senang
2003
MALAM-MALAM BIASA
Jhody Jamastun
pada malam-malam biasa
aku meregang mengutuki sejarah
segenap resahku membelit raga
membeku tanpa satupun aksara
dingin menyusup memeluk langit
remang rembulan melukisi daun-daun kering
diatas gundukan tanah basah
menyisipkan aroma mistis pada udara
jalan setapak menjaring segala jejak
pada muaranya ia menjadi mantra
yang menggenggam segenap mimpi dan harap
membawa warna-warna gelap tak lelah
hingga aku kian karib dalam suasana
2003
HARI-HARI SEMU
Jhody Jamastun
layar televisi menyapaku
“selamat pagi, tubuh-tubuh yang patuh”
menghantar waktu mengiring langkahku
menjilati mimpi di kotak kaca
seperti onggokan sampah
kepala di cemari beratus serapah
jiwa di racuni semu surga
dan aku hanya berhak menelan ludah
hari-hari terus membatukan hati
hingga hidup tak terlalu punya arti
disinilah akhirat mengakrabi
saat kematian menjadi samar
dalam jasad di jerat gelombang lapar
2003
KOTA BERBAU DEBU
Jhody Jamastun
angin membisikkan keringat kota
pada derap-derap langkah
yang berlari kencang menjelajah
udara menghembuskan aroma oli
mengartikan harapan dan mimpi
ditengah terik pertarungan diri
aku terjebak,
dalam rimba kawat menjerat
kugapai menara-menara kota
yang menjulang menopang angkasa
pada awan kelabu kulemparkan do’a serak
namun hujan menguap kedalam pori-pori
menjadi lelehan keringat
tersudut, kujilati asinnya hari-hari lelah
menikmati neraka di atas dunia
sebab waktu terus berlalu tak tersentuh
2003
MASIHKAH TUHAN ?
Jhody Jamastun
jemari mengkristal pada butir-butir tasbih
asap menjengkal setiap titik paru-paru
nuansa itu, seolah pernah kutahu
menguap diantara tonggak-tonggak dosa
kucermati lisan yang menjelajah
mencari terang dalam pekatnya jiwa
adakah ia memelukku dari belakang?
seperti kadang ia datang
langit menyeret matahari
menidurkan bumi pada akhir hari
tasbihku membeku, lidahku kelu
tak jua kutemukan bara yang menyala
hingga aku kian tersungkur
pada gamang hari-hari berlumpur
2003
LUCIFER
Jhody Jamastun
azan maghrib membawa matahari luruh
sekali lagi aku menyambut malam
dengan kepala pening menahan beban
pada gelapnya langit aku menggelinjang
segenap tubuhku kejang
berbuih amis darah datang menyerang
membenam sadarku ke dalam remang
pada udara hampa ia merajai segala ruang
sontak, ku hentak kepalaku
menabrak dinding, menerjang geliat
lelehan nanah mengaliri tengkuk dari telinga
kuresapi bersel-sel darah yang buncah
hingga pertarungan dalam kepala berhenti
saat azan maghrib selesai
2003
AKU MENCARI MU
Jhody Jamastun
betapa tak sempat lagi ku basuh hatiku
dengan embun, salju bahkan debu
maka ku kunyah mushab-mushab berkarat
ku tenggak sabda-sabda keparat
telah terlalu lama imanku berdarah
di tersesatnya jiwa, ku bakar peta-peta
lalu matamu tiba-tiba melontarkan azan
aku sudah tertinggal… !
gereja meneriakkan ratusan genta
dengungan mantra membahana dari vihara
di puncak candi ribuan wajah menyala
aku tengadah !
Tuhan ada di mana-mana.
2003
ARCA
Jhody Jamastun
pada tawanya perempuan menciptakan petaka,
pada tangisnya perempuan menyuburkan gelora,
betapa hawa adalah teka-teki yang paling tidak masuk akal.
sampai kau temui diriku kala aku tak butuh siapa-siapa
lalu sekejap segala serapah kehilangan makna
jemarimu telah sibak debu-debu dari baju
dan aku mulai belajar berdamai dengan masa lalu
sekali ini ku larung segenap luka di pantai
bersama arca-arca nestapa
yang selama ini membatu di kepala
dan kau cuma bicara sedikit saja
“aku menunggu di tepi surga”
maka leburlah jua airmata
mengaliri ngarai memenuhi laut
lengkaplah dendam yang mendekam
dalam balutan kepompong diam
pada langit dan bayanganmu yang terus menjauh
aku ciumi jejak tapakmu
dimana ku rantai segenap masa lalu
yang masih tinggalkan perih
tak henti
henti
2003
DI OMBAK KU BASUH NAMAKU
Jhody Jamastun
telah begitu lama aku menikahi derita
di ruang nyata ataupun maya
seperti laju perahu, kusetubuhi terkaman ombak
tercucilah segenap tulang. di asin pahit perjalanan
2003
PELURU
Jhody Jamastun
desing-desing peluru memburu
memecah dunia menyulam derita
sampai pada kedalaman palung tak berbatas
runcing ujungnya bekap detak nafas
tercekik, manusia menjilati asinnya takdir
desing-desing peluru memburu
memaku harga diri pada berapa banyak lubang di dada
adalah bangga yang menunggu di depan sana
tergadai oleh merah segar bergalon darah
desing-desing peluru tak henti memburu
surga koyak, gemuruh di berondong air mata
tak ada yang menghijabi , do’a teraniaya
robohlah seluruh singgasana di langit di bumi
dan peluru masih saja memburu
mengeja nama-nama setiap generasi
mengiris nanar dua mata, pewaris suram sejarah
sebuah pilar kehidupan telah dirusak maknanya
maka Tuhan segera kehilangan pekerjaan
sebab peluru telah menjadi satu-satunya penentu
masih terus hidup atau langsung menuju maut
2003
PUISI TAK SELESAI
Jhody Jamastun
dari liang di tembok berlumut
yang terlihat cuma beratus antena
menjaring cuaca dan dunia
jariku mengetik cepat lalu selinap
di sela tiang-tiang rumah
sedang kerjakan apa sayang?
lantai makin pucat dan
matahari sejak tadi meringkuk di selimut
ku remas namamu, lalu kukantongi
dalam hati
begitu tersembunyi
2003
KASIDAH PERANG
Jhody Jamastun
malaikat telah habis diperkosa
lontaran ababil mental terjaring mantra
maka lampu-lampu segera menggantikan sajadah
dan injil tertumpuk di bagian terbawah majalah
kugantung kepalaku pada menara gereja
kukubur lidahku di reruntuhan tiang-tiang masjid
di tengah perih kota renta
ku kaiskais sisa-sisa surga
manusia mesti kembali belajar mengeja kata
juga merangkai huruf-huruf s
memahat kalimat dengan tangan dan lidah
atau terus seteru
dan kita tinggal menunggu
gemuruh suara langit jatuh
2003
AKU INGIN MENAMPARMU SEKALI SAJA
Jhody Jamastun
kepalaku masih meneteskan air
usai mengusap tubuh penuh daki
mencari kedalaman makna sendiri
dalam kamar mandi
seperti cipratan air,
kenangan pecah
meriak mengolok sesalku
lalu wajahmu berputar
menyusuri setiap lorong beku
dingin sudah merasuk
keseluruh dagingku
mengiris harga diri
menyayat arti laki-laki
lalu seperti dirudung birahi
bergalon-galon air tumpah
telanjangi kulitku, namun
tak jua luruhkan cakarmu
2003
KITAB TANPA TANDA BACA
Jhody Jamastun
kepada syahrianti iskandar
berhentilah sejenak saja
dan seperti biasa, jangan pernah bersuara
telah kurapatkan namamu di kolong rahasia
sendirian, ku lumat tembok kebisuan
di langit temaram, aku mengais begitu pelan
jauh di kisi-kisi langit engkau berpijar
matamu adalah kilauan sabda tanpa sangsi
mencecar kalutku dengan jeramnya sungai ayat-ayat
lewat bahasa yang tak tertulis di kitab manapun jua
begitu sarat kalimat yang terhijab dalam tubuhmu
dan aku menggerayangi pikiranku pada seribu kemungkinan
ku sayat rahasia yang begitu terjaga
namun kau tetap tak terbaca…
sungguh,
tak terbaca…
2003
MALAM DI TONDONGKURA
Jhody Jamastun
purnama telanjang
di sela batang pohon tumbang
pada percikan beribu bintang
ada wajah tak reda terbayang
2003

17 comments
Comments feed for this article
September 21, 2007 pada 2:06 pm
indiecalista
huh! kok belum ada yang mengunjugi blog ku yah
Oktober 2, 2007 pada 5:54 am
dindonk
ahhhh….jhody!!!
gak nyanggka kamu masih bisa mnyempatkan diri bikin puisi untuk AKU….semua itu betul kena dengan apa yg telah kita lalui berdua dulu…
dan ahhhhhh…jhody…..
ahhhh…..AU AHHH…GELAP..!!!!
AKU MALUUUUUU!!!
Januari 7, 2008 pada 5:33 am
opieq01
MANTAPPPPPPP ……
Januari 13, 2008 pada 4:11 pm
aqualy
menarik!
Januari 31, 2008 pada 8:01 pm
Kusumo Diharjo Hadi Djoyo Diningrat
salut broooo…
tulisanya keren keren ..
terus berkarya oke
Mei 13, 2008 pada 5:42 pm
Harisenjakala
Puisinya bagus tuh,tapi ada yng menarik;siapa tuh syahrianti iskandar?
Mei 17, 2008 pada 2:54 am
Indiecalista
To+harisenjakala. Thanx u. Apresiasinya. Syahrianti itu sahabatku
Juni 7, 2008 pada 7:18 pm
Harisenjakala
Knapa gak ngomong langsung ke orangnya? Siapa tau jadinya sdh ada tanda bacanya…hehehe,
Juni 10, 2008 pada 4:13 am
iRfAh yG bAik hAti....^,^
oM jHod,,,,,,pA mAksudx sMua….????? nDa mEngErkA…..!!!!!!!!!! tP,,,,,,bgus jG……
Agustus 2, 2008 pada 7:31 am
lintu
???????????%$@#%&^%##@
dindonk temannya singkong yah
September 3, 2008 pada 3:49 pm
mikey17
panjang banget pak
September 3, 2008 pada 3:50 pm
mikey17
tp bagus
Oktober 14, 2008 pada 6:33 pm
DNDaeng
Teruskan… … dan gw minta diajari bro…
November 21, 2008 pada 4:32 am
ade
kakaaaaaaaaaaaaak………….keren skali puisi ta’…………………..tp nda mengerka’…………………..
Februari 24, 2009 pada 4:41 am
roni
setelah 2003 ada lagi kah? mari kembali berkarya
Oktober 21, 2009 pada 1:18 am
hesty
peMakaman……KEREN!!!!
Oktober 21, 2009 pada 11:54 pm
indiecalista
makasih. ini hesty unhas kan?! alamat blogmu dong!?