Akhirnya posting lagee… setelah berabad-abad kebingungan dengan identitas blog ku ini. Sampai-sampai ga ada tulisan yang berarti untuk di posting.

Tapi hari ini saya agak –kurang yakin- semangat lagi untuk nulis. Semalam saya silaturrahmi ke rumahnya P’Haji Danil beliau salah satu mentor ku dalam soal-soal yang spiritual dan pola pikir. Anyway diskusi kami malam tadi adalah tentang kawan2 di lingkungan ‘pengajian’ yang punya potensi besar untuk melejit tetapi tidak kunjung menemukan jalur karier yang representatif. Dalam hal ini saya tidak bermaksud menghakimi tetapi lebih tepatnya mengkritisi bahwa sepanjang kita memiliki keberanian untuk bertindak maka jalannya akan terbuka.
Lets make it clear, saya punya seorang teman alumni sebuah universitas swasta terkemuka di makassar, titelnya sarjana komputer dengan spesialisasi hardware dan jaringan, pangsa pasar yang bisa digarapnya cukup banyak sebagai seorang ahli IT, di perusahaan manapun tenaga IT pasti dibutuhkan, tetapi setelah setahun lulus beliau belum juga mendapatkan pekerjaan, ketika kemudian saya bertemu dengannya dan bertanya, dia menjawab dengan nada pesimis ;“saya nunggu PNS saja”. Duh! Saat itu juga saya tersentak dan miris, bayangkan seorang ahli IT yang saya sendiri pernah memakai jasanya dan puas dengan pekerjaan yang diselesaikannya malah tidak bisa menemukan karir yang bagus. Dan memilih berharap kepada janji-janji surga bernama PNS.
By the way kenapa sih di negara kita ini berjuta-juta orang berlomba-lomba menjadi PNS?! Jawabannya mungkin akan jamak kedengaran ; mengharapkan jaminan penghasilan setiap bulannya ditambah pensiun dan fasilitas lain. Dengan kondisi seperti itu diharapkan para PNS akan bahagia selamanya.
Pertanyaan berikutnya adalah benarkah PNS menjanjikan kenyamanan yang ‘nyaman’?! saya pernah bekerja sebagai guru TIK di sebuah sekolah dasar terbesar di kota makassar, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana beberapa orang guru PNS (tidak semuanya tentu saja) setiap hari datang ke sekolah dengan wajah murung, tanpa semangat, mengajar alakadarnya, baca koran, ngegosip sedikit, lalu pulang dengan wajah lelah dan itu berlangsung setiap hari. Bayangkan betapa tersiksanya.
Dalam hal finansial pun posisi sebagai PNS tidak menjadi jaminan tingkat kesejahteraan mereka, di kota makassar dimana pola hidup konsumtif ala metropolitan semakin menggejala, menggunakan kredit dan utang untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup adalah hal yang sangat umum. Ada guru SD yang karena mengajarnya di sekolah elit merasa risih bila tidak menggunakan mobil pribadi, real. Ini kejadian lho di depan mata saya, jadi tiap hari dia naik mobil xenia, dan gaji bulanan yang diterimanya sebagian besar dialokasikan untuk membayar kredit mobil, kebayang ngga’ betapa tersiksanya… kapan dong bisa nyaman, bisa menikmati pekerjaan, bisa fokus membina anak-anak… yah karena sejak awal mindset yang tertanam bukan pengabdian, tetapi mencari jaminan hidup.
Pada satu sisi saya pun melihat beberapa kawan PNS yang cukup cerdas mengelola aset mereka, dengan gaya hidup yang sederhan mereka lebih banyak menginvestasikan penghasilan kedalam bentuk kepemilikan tanah, ataupun emas. Nah kalau yang ini sih saya setuju.
Diluar karir sebagai PNS saya rasa peluang untuk mendapatkan penghasilan yang memadai dan tetap menikmati pekerjaan sangat terbuka lebar, negara singapura sendiri dengan jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit daripada indonesia memiliki persentase jumlah pengusaha yang jauh lebih banyak dari indonesia, ya karena itu tadi otak kita sudah di cuci bahwa karir yang mantap itu Cuma melalui jalur PNS… duh