Yah!!! ketemu lagi dengan internet… mood lagi nulis di blog… makin iri lagi ngeliat blog2 yang manis-manis.
beberapa hari ini episode kehidupanku banyak diwarnai dengan perenungan yang dalam, lengkap dengan background musik minro mencabik-cabik hati…
pertamanya, saya abis keserempet motor. waktu itu hari minggu abis ngajar les di sekolah, terus mendampingi anak2 latihan nasyid, saya pulang ke rumah dengan riang gembira meski hujan mulai rintik, untung bawa jas hujan pikirku, maka saya mengeja jalanan ke rumah sambil bernyanyi-nyanyi kecil… duh indahnya.
setiba di belokan dari sungai saddang-pelita ke pettarani, saya niatnya mo ambil kanan untuk mutar masuk ke lorong rumahku di samping warung pondok bambu, negok kanan-nengok kiri ok! aman pikirku saya mengarahkan motor ke area kanan jalan dan BRUAKKK!!! seekor motor tiger dengan pengendara yang tidak sigap menyambarku dari belakang, waktu berdetak lambat, mtakau merekam persis setiap momen itu; saya jatuh ke aspal yang basah oleh hujan dengan bahu kanan lebih dahulu mendarat, sementara sangkala widodo suprayanto the almighty motor honda supraku itu berputar-putar melawan kecepatan yang tiba-tiba berhenti mendadak.
saya melambaikan tangan keatas, paniK! jangan sampai ada mobil yang menyambutku dari belakang. saya berlari menepi, motorku di selamatkan oleh seorang tukang becak dan krakkk!!! duh bahu kananku berderak, wah! patah nih! pikirku…
akhirnya saya bisa tiba di rumah dengan naik becak sambil menahan rasa nyeri dan kepanikan. baru sekali ini saya yang pengendara motor yang baik hati, taat kepada peraturan lalu lintas, mengalami kejadian begini rupa. Shit!
akhirnya saya harus melewati hari-hari dengan kondisi bahu yang error, sampai sekarang pun masih belum fix 100%. sudah diurut tapi belum sempurna, sepertinya ada tulang yang bergeser dan rasanya bos nyeri sekali…
ok! kondisiku sekarang seperti itu, saya mencoba merenung apa hikmah dari peristiwa ini, malamya opik dan danil temanku datang menjenguk mereka sukses menghiburku disamping kita sudah lama tidak bertemu, lalu beberapa malam sesudah kejadian itu giliran p’haji danil dan astuti datang ke rumah, kami diskusi mencoba mencerna kalimat apa yang hendak ditanamkan-Nya ke dalam kepalaku…
ternyata kita tidak punya daya untuk menolak rencanaNya, musibah sesungguhnya adalah sebuah proses pencucian diri, bukan hukuman sama sekali tetapi sebuah upaya untuk membangunkan kembali kesadaran kita bahwa diatas segala kesombongan diri ada Dia yang Maha.
sekarang saya masih menikmati rasa nyeri ini, terapi urutnya tetap berjalan dan yah gitu deh hidup akan berlari memangsa usia… memberi kita waktu untuk menguapkan mimpi-mimpi…
aku tengadah dapat kuhirup keindahan langit, kuresapi denting angin, bermandi cahaya matahari…
sungguh hidup ini indah!