Dalam fase kehidupan saya. menjadi bagian dari UKM Seni UNM adalah salah satu episode terindah sekaligus ‘mengerikan’. indah sebab disanalah di sebuah organisasi kesenian kampus itu saya mengalami metamorfosa diri menjadi seorang yang benar-benar berbeda. pada sisi lain proses penjelmaan diri itu juga ‘mengerikan’ sebab ia membutuhkan airmata, keringat dan badai emosi yang menguras hati.

Dahulu saya berfikir ketika saya telah berhasil melewati tahapan-tahapan tersebut maka saya akan mampu menghadapi tantangan serupa di masa depan. Tapi ternyata tidak, sunnatullah dan proses alamiah itu akan terus berlangsung hingga saya mati nanti. Bertahun setelah saya meninggalkan UKM Seni UNM secara formal, dalam perjalanan hidup kemudian saya menyadari proses pembentukan diri itu terus saja berlangsung tanpa henti.

Selalu saja ada medan perang dimana kita harus bertempur, menghadapi umat manusia, menghadapi rekan-rekan kerja, sahabat, teman, kekasih dan orang-orang yang menaruh –terlalu- banyak harapan pada diri kita.

Saya seringkali teringat dengan petuah pelaut makassar “tibalah sebelum berlayar”. Mendengar tiga kata ini saja cukup untuk membuat saya merinding dan setrumannya bertahan berhari-hari, sungguh. Dengan kekalutan dan kekaguman saya membedah diri dan kehidupan saya, bahwa Tuhan sesungguhnya selalu berbicara kepada kita dengan cara-cara yang demikian mistis demikian intim, duh.

Sesungguhnya saya tidak tahu hendak menuliskan apalagi untuk menunjukkan ketakjuban ini, jemari saya menari dengan sendirinya selagi saya menikmati sensasi setrum ini. Sebuah titik kedamaian yang hening… mistis…

Barangkali saya menulis ini hanya sedang hendak meredakan kegalauan saya beberapa hari ini, di dalam hati ada denyut yang sakit menusuk, melihat betapa –ternyata- banyak hal di sekitar saya yang itdak bisa saya rubah dengan mudah, juga bahwa seringkali saya terlalu angkuh dengan kemampuan-kemampuan se-tai kuku ini .

Saya sadar saya seringkali terlalu bangga, terlalu jumawa dengan kapasitas saya sebagai graphic designer. Padahal itu Cuma label yang disematkan orang-orang tanpa mengukur kedalaman pengetahuan saya, keluasan hati saya, lalu orang-orang meneriakkan pujian membungkus kekaguman sebab saya kadang mentraktir teman-teman, kadang memberi sereceh dua receh kepada adik-adik di kampus.

Dan parahnya saya merasa bangga, saya merasa menikmati hujan kekaguman itu… disitulah kekeliruan saya.

Keliru karena saya lupa bahwa sebagai manusia, Tuhan selalu mencatat setiap gerak laku kita dan Dia sebagaimana adanya akan selalu menguji –kehambaan- kita, dengan ujian pujian, atau hinaan. Dan sekali lagi disitulah kenikmatan bertuhan ketika kita tahu bahwa segala kejadian yang kita alami adalah proses yang tuhan lakukan untuk berkomunikasi dengan kita, jauh di dalam hati jauh di dalam diri… sendiri.

Untuk menjadi hamba kita perlu melalui tahapan-tahapan yang penuh warna, sesungguhnya satu warna saja –warna tuhan- hanya karena kelemahan kita semata, maka kita menyebutnya berwarna-warni. Padahal dalam jagad quantum semuanya ya itu itu juga. TUHAN.

saya mencerna yusuf mansyur, m. arief budiman, ustd.lihan mereka sebagian dari banyak nama yang menjadi inspirasi saya dan mereka semua mengalami proses pematangan diri dengan berbagai bentuknya.

Terakhir kali ustd. Yusuf kehilangan uang, mas arief tentu bergelut dengan order dan deadline juga komplain, ustd lihan diuji dengan krisis perusahaannya. Diluar segala data-data yang bisa anda temui, yang saya pelajari hanyalah bahwa inilah kita HAMBA dengan cerita masing-masing dengan perjalanan masing-masing.

Dan kita semua, saya, anda, kekasih, saudara, paman, rekan kerja, ukm seni, el matra, anjari, mangkura… kita hanya sedang berjalan kepada DIA, itu saja. Maka berbahagialah saja tak perlu alasan tak perlu penyebab, berbahagialah saja! :)

 

 

semalam dikantor beberapa teman merapikan kertas-kertas bekas print out. bertumpuk kertas itu adalah kiriman dari berbagai departemen di perusahaan kami. yang kami kerjakan dengan kertas itu adalah menyobek kedua tepinya dimana lubang-lubang untuk fact sheet berada.

sebagaimana barang bekas, kertas-kertas tersebut masih kosong pada sisi lainnya dan itulah yang hendak kami manfaatkan setidaknya untuk memprint out berkas-berkas kami.

nantinya setelah kertas-kertas tersebut selesai kami pakai dan menjadi kertas bekas -lagi- biasanya cleaning service akan membakarnya.

saya berpikir kalau saja perusahaan mau menginvestasikan dana sedikit saja untuk membuat sebuah instalasi daur ulang kertas, maka akan tercipta sebuah siklus daur ulang kertas yang sehat. saya memikirkan skema berikut :

1. kertas yang benar-benar sudah tidak terpakai di jadikan bubur kertas

2. bubur kertas ini kemudian di buat menjadi cenderamata khas, bisa berupa emblem perusahaan, asbak, dll.

3. produk jadinya bisa di jual di bussiness center perusahaan.

4. profitnya di belikan pohon2 untuk menambah tanaman di halaman.

5. para karyawan berbahagia hingga akhir jaman… :)

beberapa hari ini saya di uji oleh kejadian-kejadian yang membingungkan sekaligus bikin stress bete. pasalnya saya sudah mulai dihinggapi penyakit yang secara umum hanya menyerang mereka-mereka yang berpikiran terbuka dan memiliki kemampuan multitasking.

gejala penyakit ini sesungguhnya telah jauh-jauh hari saya rasakan, beberapa diantaranya :

- dompet tercecer

- kunci motor terselip entah dimana

- uang sepuluhribuan satu-satunya bersembunyi dan tidak ditemukan hingga kini

dan yang paling mutakhir adalah handphone saya yang raib. lalu tadi siang waktu nyetak poster di percetakan, binder dan papan gambar terdampar entah dimana…

setelah saya analisa penyakit ini namanya adalah “penyakit barang-barang menjauh dari saya tanpa saya sadari” kalo istilah umum yang sering terdengar di masyarakat adalah “pelupa”.

saya sendiri tidak ingat apa arti “pelupa” :)

siapapun anda yang tersesat menemukan blog ini, selamat datang kembali… kedalam tulisan2 yang absurd dan tidak penting bagi orang lain, tapi bagi saya sih agak penting.

tadi waktu semedi di toilet saya merenung…

1. tidak pernah terbayangkan bisa berada pada episode ini, berkarier di sebuah perusahaan besar. dengan gaji yang tidak terlalu besar juga adalah sebuah mimpi yang datang tiba-tiba dan mengejutkan kesadaranku.

2. waktu berlari cepat meninggalkan berjajar kenangan, seperti sedang berkendara dan memandangi pohon-pohon yang berlari, begitu dekat sekaligus begitu tak terjangkau.

3. pada tahapan ini rasanya banyak hal yang telah tercapai sekaligus terlupakan meninggalkan tawa juga luka.

4. banyak hal yang harus disyukuri setelah pengalaman-pengalaman batin ini.

5. akhirnya saya hanya ingin berusaha tetap menjadi orang baik yang senang menulis dan menyalakan mimpi-mimpi…

kunci marketing office (2)_resize

harusnya sih postingan ini saya tulis kemarin, tetapi berkat bakat inkonsistensi waktu dalam diri saya yang muali menguasai seluruh otak ini maka anggap saja cerita ini benar-benar baru kejadian :

1. kemarin seperti biasa, sekitar jam 5 ato jam 6 kita mulai beres2 untuk pulang, karena kantor saya dipisahkan oleh ruang kerja bos dari office utama sales & marketing department -lihat inkonsistensinya : kantor-ruang kerja-office-. maka saya tentu saja tidak bisa memantau aktifitas teman2 di team sales & marketing lainnya -lagipula ada urusan apa saya memantau?! pemilu udah lewat-

2. lantas seperti biasa juga setiap sore menjelang maghrib saya akan ke toilet menuntaskan pipis yang tertahan beberapa jam karena keasikan mendesain -bohong : biasanya cuman onlen-

3. saya kembali ke office melanjutkan kerjaan -onlen- teman2 sibuk -dalam pendengaran saya-

4. terdengar suara pintu dibuka, lalu ditutup lagi -ok, teman2 ada yang pulang-

5. sepi

6. sepi sekali

7. kriiikkk… kriiikkk… kriiikkk…

8. tuh kan, sepi

9. saya melongok ke office seberang, menjelajah seluruh ruangan, kosong. -ok, semua udah pulang-

10. memeriksa pintu, dua pintu, dan keduanya terkunci…

11. -di skenario saya harus panik kan?!- Ok, panik!!! ARGHHHH!!! saya terkonci sodara, maka saya harus menahan malu ketika nelpon teman2 di concierge

saya : “bro he he… tolong dulue ambilkan kunci marketing, saya terkunci didalam”

dayat : “hahaha”

saya : >> dipercepat >> pulang dengan selamat… :)