24
Jun
09

MENJADI PNS

Akhirnya posting lagee… setelah berabad-abad kebingungan dengan identitas blog ku ini. Sampai-sampai ga ada tulisan yang berarti untuk di posting.

Tapi hari ini saya agak –kurang yakin- semangat lagi untuk nulis. Semalam saya silaturrahmi ke rumahnya P’Haji Danil beliau salah satu mentor ku dalam soal-soal yang spiritual dan pola pikir. Anyway diskusi kami malam tadi adalah tentang kawan2 di lingkungan ‘pengajian’ yang punya potensi besar untuk melejit tetapi tidak kunjung menemukan jalur karier yang representatif. Dalam hal ini saya tidak bermaksud menghakimi tetapi lebih tepatnya mengkritisi bahwa sepanjang kita memiliki keberanian untuk bertindak maka jalannya akan terbuka.
Lets make it clear, saya punya seorang teman alumni sebuah universitas swasta terkemuka di makassar, titelnya sarjana komputer dengan spesialisasi hardware dan jaringan, pangsa pasar yang bisa digarapnya cukup banyak sebagai seorang ahli IT, di perusahaan manapun tenaga IT pasti dibutuhkan, tetapi setelah setahun lulus beliau belum juga mendapatkan pekerjaan, ketika kemudian saya bertemu dengannya dan bertanya, dia menjawab dengan nada pesimis ;“saya nunggu PNS saja”. Duh! Saat itu juga saya tersentak dan miris, bayangkan seorang ahli IT yang saya sendiri pernah memakai jasanya dan puas dengan pekerjaan yang diselesaikannya malah tidak bisa menemukan karir yang bagus. Dan memilih berharap kepada janji-janji surga bernama PNS.
By the way kenapa sih di negara kita ini berjuta-juta orang berlomba-lomba menjadi PNS?! Jawabannya mungkin akan jamak kedengaran ; mengharapkan jaminan penghasilan setiap bulannya ditambah pensiun dan fasilitas lain. Dengan kondisi seperti itu diharapkan para PNS akan bahagia selamanya.
Pertanyaan berikutnya adalah benarkah PNS menjanjikan kenyamanan yang ‘nyaman’?! saya pernah bekerja sebagai guru TIK di sebuah sekolah dasar terbesar di kota makassar, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana beberapa orang guru PNS (tidak semuanya tentu saja) setiap hari datang ke sekolah dengan wajah murung, tanpa semangat, mengajar alakadarnya, baca koran, ngegosip sedikit, lalu pulang dengan wajah lelah dan itu berlangsung setiap hari. Bayangkan betapa tersiksanya.
Dalam hal finansial pun posisi sebagai PNS tidak menjadi jaminan tingkat kesejahteraan mereka, di kota makassar dimana pola hidup konsumtif ala metropolitan semakin menggejala, menggunakan kredit dan utang untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup adalah hal yang sangat umum. Ada guru SD yang karena mengajarnya di sekolah elit merasa risih bila tidak menggunakan mobil pribadi, real. Ini kejadian lho di depan mata saya, jadi tiap hari dia naik mobil xenia, dan gaji bulanan yang diterimanya sebagian besar dialokasikan untuk membayar kredit mobil, kebayang ngga’ betapa tersiksanya… kapan dong bisa nyaman, bisa menikmati pekerjaan, bisa fokus membina anak-anak… yah karena sejak awal mindset yang tertanam bukan pengabdian, tetapi mencari jaminan hidup.
Pada satu sisi saya pun melihat beberapa kawan PNS yang cukup cerdas mengelola aset mereka, dengan gaya hidup yang sederhan mereka lebih banyak menginvestasikan penghasilan kedalam bentuk kepemilikan tanah, ataupun emas. Nah kalau yang ini sih saya setuju.
Diluar karir sebagai PNS saya rasa peluang untuk mendapatkan penghasilan yang memadai dan tetap menikmati pekerjaan sangat terbuka lebar, negara singapura sendiri dengan jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit daripada indonesia memiliki persentase jumlah pengusaha yang jauh lebih banyak dari indonesia, ya karena itu tadi otak kita sudah di cuci bahwa karir yang mantap itu Cuma melalui jalur PNS… duh

15
Jun
09

isi kepala pagi ini

Bismillah…
Alhamdulillah kalo mereview perjalananku beberapa tahun terakhir ini, ada loncatan-loncatan yang luar biasa dalam karirku, masih teringat jelas rangkaian mimpi-mimpi indah semasa masih mahasiswa dulu, selepas elmatra saya ke mangkura, dengan cara yang dahsyat -dimuat di Quantum Ikhlas-. alhamdulillah di mangkura asik sekali, setahun di sana berkarir sebagai guru sesungguhnya sangat mengesankan, ada teman-teman yang supporting each others, dan murid-murid yang manis-manis, sampai sekarang pun saya masih jatuh cinta sama mereka. Lalu fase perubahan di mangkura itu terjadi semenjak kepsek mengurangi gaji para honorer, dan dengan beban kerja yang seringkali diluar job desk, rasanya tidak ada pilihan lain pada saat itu kecuali mengundurkan diri…
dan alhamdulillah jalannya dibukakan melalui informasi sahabatku ian, saya dihubungkan ke k’mail. Dan akhirnya saya fix bekerja di smart2print makassar sebuah perusahaan digital printing yang lumayan bagus, iklim kerja yang menarik karena berurusan dengan wilayah kreatif… gaji yang katanya salah satu yang tertinggi di makassar, juga kawan2 dan saudara yang baik. tetapi ada satu hal yang kurang diakomodir oleh s2p, yaitu manajemen, pengelolaan karyawan, pengelolaan tata laksana kerja. Sehingga seringkali rutinitas di smart2print sangat menjemukan, berurusan dengan deadline yang bikin gelisah… tetapi begitulah memang di dunia jasa. Kita bertaruh dengan kualitas dan kecepatan kerja yang luar biasa. Pengalaman di smart2print membentuk saya bisa menjadi tukang sulap dan ternyata bisa kok!
Alhamdulillah sekarang file2 yang “rumit” pun bisa di sulap dalam beberapa menit… setelah dari s2p… Allah membukakan jalan ke Hotel Sahid, ini bagi saya luar biasa banget, karena rasanya sungguh tidak ada usaha yang saya kerahkan hingga bisa lolos ke Hotel Sahid berbekal informasi dari saudaraku Mhimenk, luar biasa… sekarang ini di hatiku bertanya-tanya Ya Allah perasaan saya tidak pernah mimpi kerja di Hotel Sahid ini, hinggap di dunia perhotelan kayak gini saya tidak pernah bayangkan,tetapi kok saya kecebur di sini sih?! Tentunya ada maksud dari Allah menempatkan saya di Hotel Sahid, karena jalannya kok lempeng-lempeng ajah, keluar dari s2p saya clear tanpa masalah, trus tahapan rekruitmen di Sahid pun saya jalani dengan lempeng ajah. Duh, apakah ini jawaban atas do’a-do’a saya Ya Allah?! Alahamdulillah karena memang beberapa minggu sebelum saya ke Sahid, NLP ku sudah bekerja :
- “alhamdulillah penghasilanku 2,5 juta sebulan”
- “alhamdulillah saya bekerja di sebuah perusahaan besar yang mengakomodir jenjang karir”
- “alhamdulillah saya bisa banyak berhubungan dengan orang lain – ini bisa jadi jalan dakwah! Yeah!!!”
- “alhamdulillah jumlah dan kuantitas sedekahku bisa meningkat”
Dan Syukur penuh saya rasakan karena perlahan-lahan mimpi-mimpi itu terwujud, btw,dulu sempat puasa sunat niatnya biar cepat merit…  eh,dikabulkannya dengan jalan dapat pekerjaan yang lebih bagus. Jago mentong itu tuhan.
Sekarang NLP ku adalah :
- “alhamdulillah saya menikmati peran saya di Hotel Sahid”
- “alhamdulillah pekerjaan di Hotel Sahid tertangani dengan sangat baik”
- “alhamdulillah disekelilingku ada rekan-rekan kerja yang sangat mendukung”
- “alhamdulillah aktualisasi diriku terkaomodir di Hotel Sahid”
- “alhamdulillah di Hotel Sahid saya bertemu dengan banyak makhluk Allah yang lain, yang insya Allah menjadijalan dakwah saya”
- “alhamdulillah saya benar-benar ikhlas menghadapi semua tantangan di Hotel sahid”
- “alhamdulillah saya semakin giat sedekah”
Selain bersyukur saya juga seharusnya meminta maaf, Astaghfirullah karena sudah men-judge teman2 dari covernya, ternyata cewek2 sales di departemenku rajin puasa sunat! Wuih! Dahsyat bo. Meskipun penampilannya mengasankan glamour, selebritas ternyata mereka religius juga. Duh! maaf teman2 awalnya saya negatif thinking.
Hari ini :
- Alhamdulillah desain spanduk & fliyers swimming pool sudah selesai dan terpasang
- Alhamdulillah release di fajar dimuat
- Alhamdulillah semua pekerjaan ku terselesaikan dengan baik.
- Thanx god!!!

10
Jun
09

petualang

begitulah seorang musafir… kakinya menjelajah diantar sekian banyak sajadah… sedang hatinya terpaku dilangit dhuha… setiap jengkal adalah sebuah dzikir raga… setiap kekhawatiran adalah panggilan kerinduan kepada ilahi…

22
Mei
09

jenuh

jenuh saja

01
Mei
09

LAGHWI

Tulisan ini diambil dari blog beranda renungan

Kehidupan memang memberikan banyak pilihan. Ada yang sulit, sedang, dan mudah. Sekian banyak manusia yang pernah singgah di dunia ini, selalu terkotak pada tiga pilihan itu.

Ada yang mengambil pilihan sulit, apa pun risikonya. Mereka rela menyiksa diri demi kebahagiaan yang diidam-idamkan. Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang tidak mau menikah. Ada yang mengharamkan makanan dari yang hidup seperti binatang. Dan lain-lain. Begitu pun dengan sedang dan mudah. Pilihan mudah boleh dibilang yang paling populer, paling disukai. Tak peduli dengan urusan orang lain, lingkungan yang serba susah; pokoknya bisa hidup senang. Mereka bisa tega merampas hak orang lain, menghalalkan segala cara, demi kesenangan hidup.

Islam memberikan pilihan hidup sendiri. Tidak kaku dengan tiga pilihan tadi: sulit, sedang, dan mudah. Kehidupan dunia dalam Islam adalah sebuah persinggahan perjalanan seorang anak manusia. Dalam persinggahan itu, ada berbagai ujian. Persis seperti perantau yang tiba dari perjalanan jauh. Dan persinggahan memberikan aneka makanan dan minuman. Kalau si perantau melampiaskan lapar dan dahaganya di persinggahan itu, ia bisa lupa. Bahwa, akhir perjalanannya bukan di situ. Tapi tempat lain yang harus dengan susah payah ia capai.

Itulah yang pernah disampaikan seorang sahabat Rasul, Ibnu Umar r.a. Ia menceritakan pengalamannya ketika bersama Rasulullah saw. dalam sebuah perjalanan. Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah saw. memegang bahuku sambil bersabda, ‘Di dunia ini, jadilah kau seperti orang asing atau perantau. Jika berada di waktu pagi, jangan mengharap akan bertemu sore. Dan, jika berada di waktu sore jangan mengharap akan sampai pagi. Pergunakan kesempatan masa sehat untuk masa sakit, dan masa hidup untuk bekal mati.” (Bukhari)

Sampai di situ, terkesan seperti Islam memilih kehidupan yang sulit. Padahal, tidak sepenuhnya seperti itu. Ketika hidup menjadi sebuah persinggahan, yang perlu diperhatikan adalah unsur keseimbangan. Karena singgah pun mencari keseimbangan baru. Allah swt. berfirman, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. 55: 7-9)

Dari keseimbangan itu, hidup menjadi proporsional: tidak melulu ke yang sulit, sedang, dan mudah. Tapi mengalir menurut takaran yang telah Allah tetapkan dalam fitrah manusia. Hal itulah yang pernah diluruskan Rasulullah saw. kepada seorang sahabatnya, Abdullah bin Amr bin Ash. Saat itu, Abdullah ingin mengamalkan Islam dengan sangat baik: berpuasa selamanya, tidak menikah, dan mengabaikan tidur. Rasulullah saw. mengatakan, “Demi Allah, aku ini orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya. Tetapi, aku berpuasa dan berbuka. Aku shalat dan tidur. Dan, aku mengawini wanita-wanita. Barangsiapa mengabaikan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (Mutafaq ‘alaih)

Cuma masalahnya, kecenderungan-kecenderungan untuk hidup santai sangat kuat. Tanpa memberikan peluang untuk bersantai pun, umumnya orang selalu tertarik untuk bermudah-mudah. Awalnya hanya selingan, tapi berlanjut menjadi kebiasaan. Ada contoh yang mudah. Seorang mukmin sangat wajar ketika mengisi malam-malamnya dengan qiyamul-lail atau shalat malam. Di saat kebanyakan orang tidur, ia justru menangkap suasana hening itu untuk berdekat-dekat dengan Allah swt. Ia curahkan segala beban kehidupan yang begitu berat kepada sebuah kekuatan yang Maha Segala-galanya.

Namun, karena sesuatu hal, ia butuh selingan. Salah satunya, dengan menonton sepak bola. Sesuatu yang mulanya selingan ini akan bermakna lain ketika bisa mengorbankan banyak hal. Bayangkan, jika seorang mukmin menghabiskan waktu tengah malamnya hanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola. Penyelenggaranya bukan mukmin, dan sebagian besar pemainnya pun orang kafir. Dan itu tidak satu malam. Tapi bisa berlanjut dan menjadi rutin.

Tanpa sadar, ada sesuatu yang bergeser. Dan sesuatu itu merupakan hal besar. Bahwa, kehidupan ini bukan untuk main-main dan santai. Melainkan ada misi besar. Itulah ibadah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. 51:56)

Menjaga titik keseimbangan memang bukan perkara gampang. Orang bisa terpental dari titik ekstrim satu ke titik ekstrim lainnya. Dari berlebih-lebihan dalam keseriusan hidup kepada kehidupan yang sangat-sangat cair. Sedemikian cairnya hingga tak punya nilai sedikit pun. Baik nilai ukhrawi, maupun duniawi. Tidak ada pahala sebagai buah ibadah. Tidakjuga penghasilan sebagai hasil kerja. Itulah yang disebut laghwi, sebuah pekerjaan yang tidak punya nilai apa pun. Buat dunia, apalagi akhirat.

Ada dampak buat mereka yang terbudaya dengan laghwi. Dampak itu mengalir dalam jiwa. Pelan tapi pasti. Itulah kegelisahan dan kesedihan. Suatu hal yang justru sebelumnya ingin dikubur dalam bentuk santai dan bermudah-mudahan. Rasulullah saw. mengatakan, “Seorang yang kurang amalnya maka Allah akan menimpanya dengan kegelisahan dan kesedihan.” (HR. Ahmad)




Pelaku Utama

JUNAEDI Alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar. Peminat Teknologi Komputer Peminat kesenian terutama seni grafis dan karikatur.

Terekam dalam Ingatan

selalu ada waktu

Tag